Menelusuri Jejak Peradaban Islam Dan Sejarah Nusantara, MIN 9 Kota Banda Aceh Gelar Study Tour Ke Malaysia Dan Singapura Bersama Kepala Kantor Kemenag Kota Banda Aceh

Menelusuri Jejak Peradaban Islam dan Sejarah Nusantara, MIN 9 Kota Banda Aceh Gelar Study Tour ke Malaysia dan Singapura Bersama Kepala Kantor Kemenag Kota Banda Aceh

Menelusuri Jejak Peradaban Islam dan Sejarah Nusantara, MIN 9 Kota Banda Aceh Gelar Study Tour ke Malaysia dan Singapura Bersama Kepala Kantor Kemenag Kota Banda Aceh

Melaka, Malaysia – MIN 9 Kota Banda Aceh melaksanakan kegiatan Study Tour Edukatif ke Malaysia dan Singapura yang diikuti oleh dewan guru dan keluarga besar madrasah. Kegiatan ini turut didampingi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh beserta keluarga sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan sejarah, budaya, dan pendidikan di tingkat internasional.

Perjalanan yang sarat nilai edukasi tersebut diawali dengan kunjungan ke sejumlah situs bersejarah di Kota Melaka, Malaysia. Kota yang telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Dunia UNESCO ini menyimpan berbagai jejak peradaban Islam, perdagangan internasional, serta hubungan historis yang erat dengan Kesultanan Aceh Darussalam.

Kunjungan pertama dilakukan ke Makam Syekh Syamsuddin As-Sumatrani, seorang ulama besar yang pernah menjabat sebagai Mufti Kesultanan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Sosok Syekh Syamsuddin dikenal sebagai cendekiawan, sastrawan, dan pejuang yang memiliki kontribusi besar dalam perkembangan keilmuan Islam di Aceh.

Di lokasi tersebut, rombongan memperoleh penjelasan mengenai perjalanan hidup dan perjuangan Syekh Syamsuddin As-Sumatrani yang menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Aceh. Kunjungan ini menjadi sarana refleksi sekaligus pengingat akan besarnya peran ulama Nusantara dalam menjaga akidah, menyebarkan ilmu pengetahuan, dan mempertahankan marwah umat Islam di tengah berbagai tantangan pada masanya.

Setelah berziarah, rombongan melanjutkan perjalanan menyusuri kawasan bersejarah Melaka dan singgah di Masjid Kampung Kling, salah satu masjid tertua di Malaysia yang dibangun pada abad ke-18. Masjid ini memiliki arsitektur unik yang memadukan unsur budaya Melayu, Tionghoa, India, dan Timur Tengah, mencerminkan harmoni serta keberagaman masyarakat Melaka sejak dahulu kala.

Kunjungan ke Masjid Kampung Kling memberikan pengalaman berharga bagi peserta untuk melihat secara langsung bagaimana Islam berkembang melalui jalur perdagangan dan interaksi budaya yang damai. Nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan keberagaman yang tercermin dalam sejarah masjid tersebut menjadi pelajaran penting bagi seluruh peserta study tour.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi kawasan Bangunan Merah (The Stadthuys) yang menjadi ikon wisata sejarah Kota Melaka. Kompleks bangunan peninggalan kolonial Belanda ini berdiri megah dengan warna merah khas yang menjadikannya salah satu landmark paling terkenal di Malaysia.

Di lokasi ini, rombongan melakukan foto bersama sebagai bentuk dokumentasi perjalanan sekaligus mengenang sejarah panjang Melaka yang pernah menjadi pusat perdagangan dunia. Bangunan Merah menjadi saksi bisu pergantian kekuasaan dari Portugis, Belanda, hingga Inggris yang turut membentuk wajah Melaka seperti yang dikenal saat ini.

Tidak jauh dari kawasan tersebut, rombongan juga mengunjungi Kompleks Muzium Samudera, museum maritim yang dibangun menyerupai replika kapal Portugis legendaris Flor de la Mar. Kapal tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat erat dengan kawasan Nusantara karena pernah terlibat dalam aktivitas perdagangan sekaligus ekspedisi militer pada masa penjajahan Portugis.

Melalui kunjungan ke museum ini, peserta memperoleh wawasan mengenai sejarah pelayaran, perdagangan maritim, dan hubungan antarbangsa yang berkembang di Selat Melaka sejak berabad-abad lalu. Berbagai koleksi dan informasi yang dipamerkan memberikan gambaran tentang pentingnya jalur laut dalam perkembangan ekonomi, budaya, dan peradaban di Asia Tenggara.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh menyampaikan bahwa kegiatan study tour semacam ini tidak hanya bertujuan untuk rekreasi, tetapi juga menjadi media pembelajaran kontekstual yang mampu memperkaya wawasan peserta. Dengan melihat langsung situs-situs bersejarah, peserta dapat memahami perjalanan peradaban Islam dan sejarah bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara secara lebih nyata.

Sementara itu, pihak MIN 9 Kota Banda Aceh berharap kegiatan ini dapat menjadi pengalaman berharga yang memperkuat semangat belajar, menumbuhkan rasa cinta terhadap sejarah dan budaya Islam, serta mempererat ukhuwah dan kebersamaan di lingkungan madrasah.

Melalui study tour ini, seluruh peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga kesempatan untuk merefleksikan kembali hubungan historis yang erat antara Aceh dan Melaka. Jejak perjuangan ulama, perkembangan peradaban Islam, serta warisan sejarah yang masih terjaga hingga saat ini menjadi inspirasi bagi seluruh peserta untuk terus belajar, berkarya, dan berkontribusi bagi kemajuan pendidikan dan masyarakat.

Narasi: Zulfahmi

Layout: Luthfi