Banda Aceh – Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kuta Alam–Ulee Kareng Kota Banda Aceh (Sabtu, 29/8/2026) menggelar penyuluhan ekoteologi di MIN 9 Kota Banda Aceh. Kegiatan yang diikuti oleh siswa-siswi kelas 5 bersama para wali kelas tersebut mengangkat tema “Merawat Bumi Bagian dari Iman, Kelola Sampah Wujudkan Lingkungan yang Bersih dan Berkah”.
Penyuluhan yang mengusung materi “Edukasi Pemilihan Sampah dan Pembuatan EE (Eco Enzyme)” ini menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh antusias. Para siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai pentingnya memilah sampah, tetapi juga diperkenalkan dengan Eco Enzyme sebagai salah satu bentuk pengelolaan sampah organik yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan.
Kepala MIN 9 Kota Banda Aceh, Hj. Syukriani, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada jajaran IPARI Kota Banda Aceh yang telah memilih MIN 9 sebagai salah satu tempat pelaksanaan program penyuluhan ekoteologi.
Ia menyambut gembira program yang dilakukan oleh IPARI tersebut karena dinilai sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini, khususnya dalam membangun kepedulian peserta didik terhadap lingkungan.
“Selamat datang kami sampaikan kepada Ibu-Ibu dari IPARI Kota Banda Aceh di MIN 9. Kami sangat gembira dengan program yang dilaksanakan ini. Pendidikan tentang lingkungan perlu diberikan sejak dini agar anak-anak memiliki kesadaran bahwa menjaga kebersihan dan merawat bumi merupakan tanggung jawab bersama,” ujar Hj. Syukriani.
Menurutnya, madrasah tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam memberikan pengetahuan akademik dan keagamaan, tetapi juga perlu membentuk karakter peserta didik yang peduli terhadap lingkungan. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diterapkan siswa tidak hanya di madrasah, tetapi juga di rumah dan masyarakat.
Sementara itu, Ketua IPARI Kota Banda Aceh, Hj. Rosmiati, S.Ag., M.Sos., dalam sambutannya menekankan pentingnya penguatan ekoteologi di lingkungan madrasah. Menurutnya, hubungan manusia dengan alam merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai keimanan.
Ia menjelaskan bahwa merawat lingkungan bukan semata-mata persoalan kebersihan, melainkan juga bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Karena itu, pendidikan lingkungan yang dikaitkan dengan nilai agama perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.
“Ekoteologi sangat penting diperkenalkan di madrasah karena anak-anak perlu memahami bahwa menjaga bumi juga merupakan bagian dari iman. Ketika kita menjaga kebersihan, mengurangi sampah, dan memanfaatkan kembali sesuatu yang masih berguna, sebenarnya kita sedang menjalankan nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata,” jelas Hj. Rosmiati.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun budaya peduli lingkungan di kalangan peserta didik sekaligus memperkuat kolaborasi antara penyuluh agama dan madrasah.
Materi utama disampaikan oleh Hj. Supiati, S.Ag., M.Sos., yang memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah dan pengenalan Eco Enzyme (EE). Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan bahwa sampah perlu dipilah berdasarkan jenisnya sehingga lebih mudah dikelola dan tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah yang mencemari lingkungan.
Para siswa diperkenalkan dengan konsep sederhana dalam mengelola sampah organik, khususnya sisa buah dan sayuran, yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan Eco Enzyme. Hj. Supiati juga menjelaskan proses pembuatan Eco Enzyme secara bertahap, mulai dari pemilihan bahan, pencampuran bahan, proses fermentasi, hingga pemanfaatannya.
Dengan bahasa yang mudah dipahami siswa, narasumber menjelaskan bahwa Eco Enzyme merupakan hasil fermentasi bahan organik seperti kulit buah dan sisa sayuran dengan gula dan air. Proses tersebut menghasilkan cairan yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan, terutama sebagai bagian dari upaya ramah lingkungan.
Selain menjelaskan cara pembuatannya, Hj. Supiati juga memaparkan berbagai manfaat Eco Enzyme. Para peserta didik diajak memahami bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sebagai sampah ternyata dapat memiliki nilai guna apabila dikelola dengan tepat.
“Jangan langsung menganggap semua sisa makanan atau kulit buah sebagai sampah. Sebagian dapat kita manfaatkan kembali. Dengan memilah dan mengolahnya, kita tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga belajar menjaga ciptaan Allah,” terang Hj. Supiati.
Antusiasme siswa terlihat ketika narasumber menjelaskan proses pembuatan Eco Enzyme. Mereka mengikuti setiap tahapan dengan penuh perhatian dan aktif menyimak penjelasan yang diberikan. Materi yang dikemas secara praktis membuat siswa lebih mudah memahami hubungan antara kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, dan nilai-nilai keimanan.
Kegiatan tersebut dikoordinasikan langsung oleh Koordinator Kurikulum MIN 9 Kota Banda Aceh, Misran, bersama Koordinator Kesiswaan, Reni Nurmalisa. Keduanya memastikan peserta didik kelas 5 dapat mengikuti kegiatan dengan tertib dan aktif bersama para wali kelas 5.
Keterlibatan wali kelas juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Para guru mendampingi siswa selama kegiatan sekaligus diharapkan dapat meneruskan pesan-pesan kepedulian lingkungan dalam aktivitas pembelajaran dan pembinaan karakter di madrasah.
Melalui kegiatan penyuluhan ekoteologi ini, MIN 9 Kota Banda Aceh berharap kesadaran siswa terhadap lingkungan semakin tumbuh. Peserta didik tidak hanya memahami pentingnya membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga mampu membedakan jenis sampah, mengurangi sampah, serta memanfaatkan sampah organik menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Kolaborasi antara IPARI Kota Banda Aceh dan MIN 9 Kota Banda Aceh tersebut sekaligus menjadi contoh bahwa pendidikan agama dapat berjalan beriringan dengan pendidikan lingkungan. Pesan “Merawat Bumi Bagian dari Iman”diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan siswa setiap hari.
Dengan membangun kepedulian sejak usia sekolah dasar, madrasah diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam. Sebab, menjaga bumi, mengurangi sampah, dan menciptakan lingkungan yang bersih merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan kehidupan yang lebih sehat, nyaman, dan penuh keberkahan.

