Banda Aceh, 2 September 2026 — Upaya memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang sehat bagi pendidik terus dilakukan oleh MIN 9 Kota Banda Aceh. Salah satunya melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Smart Stress Bracelet (SSB) yang menghadirkan Tim Peneliti Smart Stress Bracelet dari Universitas Syiah Kuala, Fakultas Teknik, yang dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Ir. Melinda, ST., M.Sc., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., Psikologi.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 2 September 2026 bertempat di Ruang Guru MIN 9 Kota Banda Aceh, dengan melibatkan guru-guru MIN 9 serta mahasiswa Universitas Syiah Kuala. FGD ini menjadi bagian dari pengenalan dan pengembangan pemanfaatan teknologi Smart Stress Bracelet (Gelang Pintar) sebagai salah satu instrumen yang dapat membantu memantau dan mengelola tingkat stres guru dalam menjalankan tugas pendidikan.
Kepala MIN 9 Kota Banda Aceh, Hj. Syukriani, S.Pd.I., M.Pd., menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, penggunaan teknologi dalam mendukung kesejahteraan guru merupakan langkah penting, terlebih bagi pendidik yang setiap hari menghadapi beragam karakter dan kebutuhan peserta didik.
“Kami sangat menyambut baik program Smart Stress Bracelet ini. Guru tidak hanya dituntut untuk mengajar, tetapi juga mendidik, membimbing, memahami karakter, serta memberikan pendampingan kepada anak-anak dengan berbagai hambatan dan kebutuhan khusus. Karena itu, kondisi psikologis dan tingkat stres guru juga perlu mendapatkan perhatian,” ujar Hj. Syukriani, S.Pd.I., M.Pd.
Ia menambahkan bahwa tantangan guru dalam pendidikan inklusif membutuhkan kesabaran, ketahanan emosional, dan kemampuan mengelola tekanan dengan baik. Kehadiran Gelang Pintar diharapkan dapat membantu guru mengenali kondisi dirinya sehingga dapat mengambil langkah yang tepat dalam menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kesehatan diri.
“Kami berharap program ini tidak hanya menjadi sebuah penelitian, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi guru dan madrasah. Dengan guru yang lebih mampu mengelola stres, insyaallah proses pembelajaran akan menjadi lebih nyaman, humanis, dan berpihak kepada kebutuhan peserta didik,” lanjutnya.
Menurut Kepala Madrasah, penguatan kemampuan guru dalam mengelola stres juga memiliki kaitan erat dengan pengembangan Madrasah Inklusif, yang menjadi salah satu program unggulan MIN 9 Kota Banda Aceh. Guru yang memiliki kesiapan secara fisik dan psikologis akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang ramah, sabar, adaptif, dan inklusif.
Mengenal Smart Stress Bracelet
Dalam kegiatan FGD, Tim Peneliti Smart Stress Bracelet memberikan pengenalan mengenai perangkat Smart Stress Bracelet (Gelang Pintar), mulai dari konsep, fungsi, manfaat, hingga potensi penggunaannya dalam memantau kondisi stres.
Para peserta diperkenalkan dengan cara kerja gelang pintar tersebut serta bagaimana data yang diperoleh dapat menjadi bahan untuk memahami kondisi guru selama menjalankan aktivitas pembelajaran. Teknologi ini diharapkan dapat membantu memberikan gambaran mengenai respons tubuh terhadap kondisi yang berpotensi menimbulkan stres.
Prof. Melinda bersama tim juga menjelaskan bahwa pemanfaatan SSB bukan semata-mata untuk mengukur tingkat stres, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran guru terhadap kondisi dirinya. Dengan mengenali perubahan kondisi tubuh dan tingkat stres, guru diharapkan dapat melakukan pengelolaan diri secara lebih baik.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif bersama para guru. Peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman, tantangan, serta kondisi yang sering dihadapi selama proses mengajar, khususnya ketika berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kebutuhan dan hambatan yang beragam.
Diskusi berlangsung terbuka dan komunikatif. Para guru turut memberikan berbagai pandangan mengenai kondisi pekerjaan yang dapat memengaruhi tingkat stres, mulai dari beban mengajar, pengelolaan kelas, karakter peserta didik, hingga tantangan dalam memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak disabilitas.
Data Menjadi Dasar Tindak Lanjut
Salah satu bagian penting dalam kegiatan ini adalah pembahasan mengenai penggunaan SSB oleh guru-guru MIN 9 Kota Banda Aceh. Gelang pintar tersebut nantinya dapat digunakan untuk memperoleh data terkait kondisi stres guru selama melaksanakan aktivitas mengajar.
Data yang diperoleh akan menjadi bahan tindak lanjut bagi tim peneliti untuk melihat kondisi guru secara lebih objektif. Dengan adanya data tersebut, diharapkan dapat dilakukan analisis dan pengembangan strategi yang lebih tepat dalam membantu guru mengelola stres ketika menjalankan tugasnya.
Bagi MIN 9 Kota Banda Aceh, program ini menjadi langkah positif dalam membangun budaya madrasah yang tidak hanya memperhatikan perkembangan peserta didik, tetapi juga kesejahteraan dan kesiapan para pendidiknya.
Pendidikan inklusif, menurut pihak madrasah, membutuhkan ekosistem yang kuat. Peserta didik membutuhkan guru yang kompeten, tetapi guru juga membutuhkan dukungan agar mampu menjalankan tugasnya secara optimal.
Kegiatan FGD Smart Stress Bracelet ini sekaligus menunjukkan adanya kolaborasi antara madrasah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan tim peneliti dalam menghadirkan inovasi pendidikan berbasis teknologi dan kebutuhan nyata di lapangan.
MIN 9 Kota Banda Aceh berharap kolaborasi tersebut dapat terus dikembangkan sehingga menghasilkan berbagai inovasi yang mendukung terwujudnya madrasah inklusif yang unggul, ramah anak, serta memberikan perhatian terhadap kesehatan dan kenyamanan seluruh warga madrasah.
Melalui pemanfaatan teknologi seperti Smart Stress Bracelet, guru diharapkan tidak hanya semakin mampu mengenali kondisi dirinya, tetapi juga semakin siap menghadirkan pendidikan yang penuh kesabaran, empati, dan kasih sayang bagi seluruh peserta didik tanpa terkecuali.

