Mantapkan Pemahaman KBC Inklusif, MIN 9 Kota Banda Aceh Gelar Bimtek Indoor-Outdoor: Menumbuhkan Guru Yang Mendidik Dengan Cinta

Mantapkan Pemahaman KBC Inklusif, MIN 9 Kota Banda Aceh Gelar Bimtek Indoor-Outdoor: Menumbuhkan Guru yang Mendidik dengan Cinta

Mantapkan Pemahaman KBC Inklusif, MIN 9 Kota Banda Aceh Gelar Bimtek Indoor-Outdoor: Menumbuhkan Guru yang Mendidik dengan Cinta

Banda Aceh – Dalam upaya memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sekaligus meningkatkan kompetensi guru dalam memberikan layanan pendidikan inklusif, MIN 9 Kota Banda Aceh menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) KBC Inklusif yang dilaksanakan secara bertahap melalui kegiatan indoor dan outdoor. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen madrasah sebagai salah satu pelopor Madrasah Inklusi di lingkungan Kementerian Agama Kota Banda Aceh.

Rangkaian kegiatan diawali pada 8 Juli 2026 di Aula Pertemuan BSI KCP Diponegoro Banda Aceh. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh, Dr. Salman, S.Pd., M.Ag yang menyampaikan apresiasi atas komitmen MIN 9 Kota Banda Aceh dalam mengembangkan pendidikan inklusif yang berpijak pada nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta. “Kebersamaan Bersama MIN 9 tidak bisa dilupakan, perjalanan yang indah saat di Malaysia sulit dilupakan, makanya hari ini saya hadir lebih awal untuk menghargai itu semua dan itu merupakan wujud cinta sesama” tuturnya mengenang pengalaman studi tour di Malaysia dengan MIN 9. Turut hadir mendampingi beliau dalam kegiatan tersebut Bunda Inklusi Kementerian Agama Kota Banda Aceh, Ibu Rosnidar, Kasubbag TU Kusnadi, S.Ag., MA Kasi Penmad Syafruddin, M.Si dan Pengawas Pembina Dr. Juanda, SE., MM. 

Dalam sambutannya, Kepala MIN 9 Kota Banda Aceh, Hj. Syukriani, menegaskan bahwa pemahaman tentang pendidikan inklusif merupakan kebutuhan mendasar bagi seluruh pendidik di madrasah. "MIN 9 Kota Banda Aceh merupakan salah satu madrasah penggerak pendidikan inklusi. Oleh karena itu, seluruh guru harus menjadi pilar utama dalam memberikan layanan pendidikan, pendampingan, dan bimbingan kepada seluruh peserta didik, termasuk anak-anak penyandang disabilitas. Setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, penuh kasih sayang, serta menghargai setiap perbedaan," ungkapnya.

Kegiatan pada hari pertama diperkuat dengan penyampaian materi oleh M. Haikal, S.Psi., M.Psi., Psikolog. dari Scandic Child Development, yang mengulas berbagai pendekatan psikologis dalam memahami karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus, strategi pembelajaran yang ramah anak, hingga pentingnya membangun lingkungan belajar yang inklusif dan penuh empati.

Diskusi berlangsung sangat interaktif. Para guru berbagi pengalaman mendampingi anak-anak dengan berbagai karakter di kelas, mulai dari kesulitan konsentrasi, hambatan komunikasi, hingga tantangan membangun interaksi sosial. Berbagai kasus nyata yang muncul di lingkungan madrasah dibahas bersama sehingga peserta memperoleh solusi praktis yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari.

Selanjutnya, Bimtek dilanjutkan pada 23–25 Juli 2026. Selama dua hari pertama, kegiatan berlangsung di ruang guru MIN 9 Kota Banda Aceh dengan fokus pada penguatan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Materi yang disampaikan meliputi Cinta Allah dan Rasul, Cinta Diri dan Sesama, Cinta Ilmu, serta Cinta Negara.

Pendalaman dan pemantapan materi KBC tersebut disampaikan langsung oleh Tim Fasilitator Nasional (Fasnas) KBC, yaitu Drs. Nopia Dorsain selaku Ketua Pokjawas Madrasah Provinsi Aceh yang bertugas di Aceh Tengah. Fikriah, S.Ag., M.Pd. Ketua Kelompok Kerja Pengawas Madrasah Kota Banda Aceh yang mengabdi di tingkat MA dan MTs serta beberapa MI Swasta. Rosyidah Lubis, S.Ag., M.Pd. Sekretaris Pokjawasmad Provinsi Aceh, dimana saat ini beliau menjadi pengawas pembina di beberapa madrasah di Kabupaten Aceh Besar.

Pak Novi sapaan akrabnya, lebih banyak memfokuskan materi tentang Cinta Allah dan Rasul dengan diskusi, tanya jawab yang reflektif dan persuasif. Hampir satu hari penuh beliau mengajak para guru melakukan refleksi mendalam mengenai hakikat menjadi seorang pendidik. Bagi beliau, guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menghadirkan keteladanan spiritual kepada peserta didik. Diskusi berlangsung begitu hidup. Banyak guru yang larut dalam perenungan ketika diajak mengingat kembali alasan pertama mereka memilih profesi sebagai pendidik.

Pemateri kedua, Ibu Fikriah yang menyampaikan konsep KBC tentang Cinta Ilmu sebagai cahaya yang terpancar dalam jiwa murid, jalan untuk menerangi setiap insan apabila benar-benar merasakan cinta ilmu karena Sang Pencipta Ilmu. Dengan gaya penyampaian yang sistematis dan inspiratif, beliau mengajak guru melihat ilmu bukan sekadar kumpulan pengetahuan, melainkan cahaya yang berasal dari Allah SWT. "Ilmu akan hidup apabila diajarkan dengan cinta. Murid yang mencintai ilmu akan belajar bukan karena takut nilai jelek, tetapi karena menyadari bahwa ilmu adalah jalan untuk semakin dekat kepada Allah," ungkapnya.

Sementara itu, Rosyidah Lubis lebih banyak berbicara tentang cinta diri dan sesama serta cinta Negara yang saling berkaitan. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif dan penuh humor, beliau mengajak peserta menyadari bahwa mencintai diri sendiri berarti mensyukuri nikmat Allah sekaligus menjaga kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Dari kecintaan terhadap diri sendiri itulah lahir kemampuan mencintai orang lain, menghargai keberagaman, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap bangsa dan negara.

Ketiga fasilitator saling bergantian mengisi sesi, berdiskusi, dan berkolaborasi sehingga seluruh konsep Panca Cinta dalam Kurikulum Berbasis Cinta dipahami secara utuh oleh para guru.

Belajar dari Hamparan Alam Pantai Riting

Puncak kegiatan berlangsung pada 25 Juli 2026 di Pantai Riting, Aceh Besar. Berbeda dengan dua hari sebelumnya yang berlangsung di dalam ruangan, kali ini alam menjadi ruang belajar utama. Deburan ombak, semilir angin laut, serta hamparan pasir menjadi media refleksi untuk menghayati materi Cinta Alam.

Para guru diajak menyadari bahwa alam bukan sekadar objek pembelajaran, tetapi merupakan amanah Allah yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Berbagai aktivitas reflektif dilakukan selama kegiatan. Peserta diajak mengamati keindahan ciptaan Allah, berdiskusi mengenai tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi, hingga merancang implementasi nilai cinta alam dalam pembelajaran di madrasah.

Turut hadir mengikuti rangkaian kegiatan tersebut Pengawas Pembina MIN 9 Kota Banda Aceh, Dr. Juanda, Bunda Inklusi Rosnidar yang memberikan apresiasi terhadap semangat para guru dalam mengikuti seluruh proses pembelajaran dan refleksi selama kegiatan berlangsung.

Pada sesi penutupan, Dr. Salman kembali hadir untuk menutup secara resmi kegiatan Bimtek. Dalam arahannya, beliau menekankan bahwa keberhasilan Kurikulum Berbasis Cinta bukan diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai cinta benar-benar tertanam dalam diri peserta didik.

"Bagaimana kita bisa menanamkan kepada anak sehingga mereka menangis apabila tidak bisa ke masjid untuk melaksanakan salat berjamaah. Artinya, dalam jiwa mereka telah tumbuh kerinduan dan kecintaan yang begitu mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan sebelum sampai ke masjid, dalam perjalanan pun mereka sudah merindukan perjumpaan dengan Sang Ilahi. Itulah hakikat pendidikan berbasis cinta yang sesungguhnya," tutur Dr. Salman.

Kegiatan berakhir menjelang waktu Ashar dengan suasana penuh haru melalui sesi muhasabah diri. Seluruh guru diajak merefleksikan kekurangan masing-masing sebagai pendidik agar senantiasa memperbaiki diri dan menguatkan niat untuk mendidik semata-mata karena Allah dan Rasul-Nya.

Sebagai penutup, seluruh peserta saling berjabat tangan untuk bermaaf-maafan, kemudian melanjutkan kegiatan dengan saling bertukar kado yang telah dipersiapkan sebelumnya. Momen sederhana tersebut menjadi simbol persaudaraan, kebersamaan, dan semangat saling mencintai antarsesama pendidik, sejalan dengan nilai-nilai yang diusung dalam Kurikulum Berbasis Cinta.

Melalui Bimbingan Teknis ini, MIN 9 Kota Banda Aceh berharap seluruh guru semakin mantap dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif yang humanis serta Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan madrasah, sehingga mampu melahirkan generasi yang berakhlak mulia, peduli terhadap sesama, mencintai ilmu, menjaga alam, serta memiliki kecintaan yang kuat kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, dan tanah air Indonesia.

Narasi: Zulfahmi

Layout: Luthfi